Wednesday, 19 October 2016

KAU ADALAH SAUDARAKU


Sesama Muslim Bersaudara Sesama Muslim Adalah Saudara Hadits Sesama Muslim Bersaudara Muslim Itu Bersaudara Muslim Bersaudara
Seorang muslim betapapun ia memiliki masalah dengan saudaranya sesama muslim, tetap saja mereka adalah bersaudara walau dalam masalah pembunuhan sekalipun. Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari SAUDARANYA, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih” (QS. Al-Baqarah: 178).
Jika dalam kasus pembunuhan saja Allah masih menyebut hubungan persaudaraan antara si pembunuh dengan ahli waris yang terbunuh, lalu bagaimana pula jika perselisihan di antara mereka jauh lebih ringan daripada kasus pembunuhan? Apalagi permasalahan di antara mereka hanya berbeda pendapat atau berbeda sudut pandang dalam masalah khilaafiyyah ijtihaadiyyah? Apakah karena itu dibenarkan baginya untuk tidak menganggap seorang muslim yang berbeda pendapat dengannya sebagai saudara?
Saudaraku, perselisihan yang terjadi di kalangan ahlussunnah dari masa ke masa, dari yang ringan berupa adu argumen sampai yang berat sekalipun yang menyebabkan pertumpahan darah, tidaklah serta-merta menyebabkan lepasnya label persaudaraan di antara mereka.
Bukankah engkau masih ingat dengan firman Allah,
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ . إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min BERPERANG maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan berbuat ANIAYA terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah BERSAUDARA, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujuraat: 9-10).
Perhatikanlah, situasinya PERANG (qitaalun) dan ANIAYA (baghyun), namun statusnya tetap SAUDARA (ikhwah). Tentunya untuk situasi perselisihan yang lebih ringan dari itu, tidak merubah statusnya sebagai SAUDARA.
Ketika sesama kaum muslimin berselisih, seharusnya perselisihan tersebut dikembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah berfirman,
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya” (Qs. An-Nisaa’: 59).
Kalau kita siap mengembalikan perselisihan antara sesama kita kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kita harus siap meyakini dan menerima dengan lapang dada bahwa orang yang berselisih dengan kita tersebut adalah SAUDARA kita.
Semoga kita tidak menjadi seperti yang difirmankan Allah,
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ
“Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitaab dan ingkar kepada sebagian yang lain?” (QS. Al-Baqarah: 85).
Nas’alullaaha -s salaamata wal ‘aafiyah.

KEAJAIBAN PUASA SENIN-KAMIS


Kisah Nyata Keajaiban Puasa Senin kamis - Puasa memiliki beberapa manfaat, baik di tinjau dari segi kejiwaan, social, dan kesehatan. Beberapa manfaat puasa secara kejiwaan adalah puasa membiasakan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajari dan membantu bagaimana menguasai diri, serta mewujudkan dan membentuk ketakwaan yang kokoh dalam diri.
Dan hal lain merupakan hikmah Puasa Senin Kamis Menurut Islam yang paling utama. Termasuk manfaat puasa adalah mematahkan nafsu. Karena apabila nafsu berlebihan baik dalam makanan maupun minuman dapat mendorong nafsu tersebut unruk berbuat kejahatan, enggan mensyukuru nikmat. Oleh karena itu Rasulullah saw menjadikan puasa sebagai benteng untuk menghalangi nafsu syahwat. Sehingga beliau memerintahkan kepada orang yang belum mampu menikah untuk berpuasa.
Dr.Yusuf Qardhawi dalam alkitabnya “Al Ibadah Fil Islam” mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya.
Manfaat Puasa Senin Kamis Bagi Islam
1. Menguatkan Jiwa
Dalam hidup tidak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya sehingga manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya, meskipun keninginan itu merupakan sesuatu yang batil dan menggangu serta merugikan orang lain.
Karenanya didalam islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikan, buak membunuh nafsu yang membuat kita tidak lagi memiliki keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Allah Swt juga memerintahkan kita untuk benar-benar memerhatikan masalah ini,
Allah Swt berfirman:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya(sesat) berdasarkan ilmunya..(QS.AL Jaatsiyah [45]:23)
Kisah Nyata Keajaiban Puasa Senin kamis
Dengan ibadah puasa manusai akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat. Bahkan manusia akan memperoleh drajat yang tinggi layaknya malaikat yang suci. Dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit sehingga segala doanya dikabulkan oleh Allah Swt.
Rasulullah Saw. Bersabda:
Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi. (HR. Tirmidzi).
2. Mendidik Kemauan.
Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik pula, walaupun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu Rasulullah Saw, menyatakan “puasa setengah dari kesabaran”.
Dalam kaitannya ini maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang perima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan dan kenikmatan duniawai yang sangat besar. Dan kekuatan rohani juga akan membuat seseorang muslim tidak akan berputus asa walaupun penderitaan yang dialaminya sangatlah berat.
3. Menyehatkan Badan
Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw tetapi sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi.
Mereka berkesimpulan bahwa pada saat tertentu perut memang harus diistrirahatkan dari berkerja dalam hal memproses makanan yang masuk, sebagaimana halnya mesin juga harus diistirahatkan. Apalagi dalam syariat islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga bagian, sepertinganya untuk makan, sepertiganya untuk minum, dan sepertinganya lagi untuk udara.
4. Mengenal Nilai Kenikmatan
Dalam hidup ini sebenarnya sudah banyak allah Swt memberikan kenikamat kepada manusia, tetapi justru banyak dari manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Sudah mendapatkan satu tapi tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, sementara sudah mendapatkan dua pun tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga, dan begitulah seterusnya.
Padahal kalau manusia mau memeperhatikan dan merenungkan bahwa apa yang diperolehnya sebenarnay sudah sangat menyenangkan, karena begitu banyak manusia lain yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.
Disinilah letak pentingnya ibadah puasa, guna mendidik kita untuk menyadari akan tingginya nilai kenikmatan yang Allah berikan. Rasa syukur memenag akan membuat nikmat itu menjadi bertambah banyak baik dari segi jumblah atau paling tidak dari segi rasa.
Allah Swt. Berfirman:
Dan(ingatlah juga), tatkala tuhanmu memaklumkan; “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepada mu, dan jika kamu mengingkari nikmatku maka sesungguhnya azabku sangat perih.”(QS.Ibrahim:7).
5. Mengingat Dan Merasakan Penderitaan Orang Lain
Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dalam beberapa jam saja, sementara penderitaan orang lain entah sampai kapan akan berakhir.
Diantara manfaat puasa lainnya adalah mengosongkan hatinya untuk berpikir dan berzikir. Karena jika berbagai nafsu syahwat itu dituruti maka bisa mengeraskan dan membutakan hati, selanjutnya menghalangi hati untuk berpikir dan berzikir, sehingga membuat kita lengah. Berbeda halnya jika perut kita kosong dari makanan dan minum akan menyebabkan hati bercahaya dan lunak, kekerasan hati akan sirna, kemudian dimanfaatkan semata-mata hanya untuk berpikir dan berzikir.

Tuesday, 18 October 2016

TAKDIR

Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya, baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempat, maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini ada takdirnya, termasuk manusia.

TAKDIR DALAM AGAMA ISLAM
Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.

Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan.

DIMENSI KETUHANAN
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
  • Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (QS. Al Hadid [57]:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).
  • Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya). (QS. Al-Furqaan25]:2)
  • Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj[22]:70)
  • Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (QS. Al Maa'idah[5]:17)
  • Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya. (QS. Al-An'am[6]:149)
  • Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. (QS. As-Safat[37]:96)
  • Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS. Luqman[31]:22). Allah yang menentukan segala akibat.
DIMENSI KEMANUSIAAN
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya.
  • Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS. Ar Ra'd[13]:11)
  • (Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al Mulk[67]:2)
  • Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih (QS. Al-Baqarah[2]:62). Iman kepada Allah dan hari kemudian dalam arti juga beriman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir.
  • ... barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir... (QS. Al Kahfi[18]:29)
IMPLIKSI IMAN KEPADA TAKDIR
Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manuisa hanya tahu takdirnya setelah terjadi.

Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (QS. Al Hadiid[57]:23).
Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan hidup berupa wahyu Allah yaitu Al Quran dan Al Hadits untuk ditaati.

Sunday, 16 October 2016

LETAK KEBAHAGIAN ADALAH HATI

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Namun banyak orang yang menempuh jalan yang salah dan keliru. Sebagian menyangka bahwa kebahagiaan adalah dengan memiliki mobil mewah, Handphone sekelas Blackberry, memiliki rumah real estate, dapat melakukan tur wisata ke luar negeri, dan lain sebagainya. Mereka menyangka bahwa inilah yang dinamakan hidup bahagia. Namun apakah betul seperti itu? Simak tulisan berikut ini.
Kebahagiaan untuk Orang yang Beriman dan Beramal Sholeh
Saudaraku …
Orang yang beriman dan beramal sholeh, merekalah yang sebenarnya merasakan manisnya kehidupan dan kebahagiaan karena hatinya yang selalu tenang, berbeda dengan orang-orang yang lalai dari Allah yang selalu merasa gelisah. Walaupun mungkin engkau melihat kehidupan mereka begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan harta. Namun jika engkau melihat jauh, engkau akan mengetahui bahwa merekalah orang-orang yang paling berbahagia. Perhatikan seksama firman-firman Allah Ta’ala berikut.
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97). Ini adalah balasan bagi orang mukmin di dunia, yaitu akan mendapatkan kehidupan yang baik.
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97). Sedangkan dalam ayat ini adalah balasan di akhirat, yakni alam barzakh.
Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآَخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS. An Nahl: 41)
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3). Kedua ayat ini menjelaskan balasan di akhirat bagi orang yang beriman dan beramal sholeh.
Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)
Inilah empat tempat dalam Al Qur’an yang menjelaskan balasan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh. Ada dua balasan yang mereka peroleh yaitu balasan di dunia dan balasan di akhirat. Itulah dua kebahagiaan yang nantinya mereka peroleh. Ini menunjukkan bahwa mereka lah orang yang akan berbahagia di dunia dan akhirat.
Salah Satu Bukti
Seringkali kita mendengar nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Namanya begitu harum di tengah-tengah kaum muslimin karena pengaruh beliau dan karyanya begitu banyak di tengah-tengah umat ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, nama aslinya adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi. Nama Kunyah beliau adalah Abul ‘Abbas.
Berikut adalah cerita dari murid beliau Ibnul Qayyim mengenai keadaannya yang penuh kesusahan, begitu juga keadaan yang penuh kesengsaraan di dalam penjara. Namun di balik itu, beliau termasuk orang yang paling berbahagia.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Allah Ta’ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan.
Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya.
Terpancar pada wajah beliau sinar kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun sering mengatakan berulang kali pada Ibnul Qoyyim, “Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya keindahan surga dan tamannya ada di hatiku.”
Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan tatkala beliau berada di dalam penjara, padahal di dalamnya penuh dengan kesulitan, namun beliau masih mengatakan, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah mengatakan, “Sebenarnya orang yang dikatakan dipenjara adalah orang yang hatinya tertutup dari mengenal Allah ‘azza wa jalla. Sedangkan orang yang ditawan adalah orang yang masih terus menuruti (menawan) hawa nafsunya (pada kesesatan). ”
Bahkan dalam penjara pun, Syaikhul Islam masih sering memperbanyak do’a agar dapat banyak bersyukur pada Allah, yaitu do’a: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, aku meminta pertolongan agar dapat berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik pada-Mu). Masih sempat di saat sujud, beliau mengucapkan do’a ini. Padahal beliau sedang dalam belenggu, namun itulah kebahagiaan yang beliau rasakan.
Tatkala beliau masuk dalam sel penjara, hingga berada di balik dinding, beliau mengatakan,
فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ
“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al Hadid: 13)
Itulah kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang memiliki keimanan yang kokoh. Kenikmatan seperti ini tidaklah pernah dirasakan oleh para raja dan juga pangeran.
Para salaf mengatakan,
لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ
“Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”
Mendapatkan Surga Dunia
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat.”
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa surga dunia adalah mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat pada-Nya, menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya.
Inilah surga dunia yang dirindukan oleh para pecinta surga akhirat.
Itulah saudaraku surga yang seharusnya engkau raih, dengan meraih kecintaan Allah, senantiasa berharap pada-Nya, serta dibarengi dengan rasa takut, juga selalu menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya.
Inti dari ini semua adalah letak kebahagiaan bukanlah dengan memiliki istana yang megah, mobil yang mewah, harta yang melimpah. Namun letak kebahagiaan adalah di dalam hati.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan memberikan kita surga dunia yaitu dengan memiliki hati yang selalu bersandar pada-Nya.
Hati yang selalu merasa cukup itulah yang lebih utama dari harta yang begitu melimpah.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Thursday, 13 October 2016

TIGA LANGKAH JALAN KELUAR BILA KITA DI UJI


I) Kuatkan iman, pupuk kesabaran, mantapkan keyakinan menghadapi ujian itu dengan segera mendekatkan diri kepada Allah. Apabila Rasulullah SAW ditimpa masalah, baginda akan terus bangun mendirikan solat dua rakaat. Baginda tidak melihat masalah yang besar tetapi cepat-cepat merujuk kepada Pemberinya – Allah Maha Besar. Masalah kita mungkin besar tetapi Allah yang memberinya jauh lebih besar. Justeru, segeralah ‘mencari’ Allah sebelum mencari yang lain-lain apabila ditimpa ujian.
2) Cuba serapkan rasa di dalam hati Kehendak (pilihan) Allah mengandungi hikmah yang baik jika diterima penuh keinsafan dan kesabaran. Yang penting apa yang berlaku ‘di dalam hati’ kita, bukan apa yang berlaku diluar diri kita. Allah berikan yang pahit, jadikan ubat. Allah berikan yang pedih, anggaplah itu pembedahan jiwa untuk mengeluarkan penyakit-penyakit hati kita. Ya, jika limau yang kita dapat masam… buatlah air limau, kata orang yang bijaksana.
3) Berbaik sangka dengan Allah dengan cara menyedari (mencari) hikmah. Inilah hakikat hidup yang dipilih Allah untuk kita. Bila baik sangka kepada Allah, maka kita akan bertambah hampir kepada-Nya. Apabila hampir kepadanya… insyaaAllah semuanya akan baik-baik belaka. Bukankah DIA Tuhan yang Maha Baik?
Ya, Allah timpakan ujian yang besar, untuk ‘membesarkan’ kita..Ingat tu!. Justeru, ahli yang bijaksana sering berkata…Pemimpin yang besar itu dikenali melalui ujian yang dihadapinya. Semakin besar tahap kepimpinannya, maka semakin besarlah ujian yang Tuhan sediakan untuk ‘membesarkan’ lagi pengaruh kepimpinannya.
Dan setiap kita adalah pemimpin… sekurang-kurang pemimpin buat diri sendiri. Jadi, kita pasti diuji! Justeru apabila diuji jangan katakan..“Apakah aku tersisih?” Sebaliknya, katakan, “Aku sudah terpilih!”

TERAPI JIWA DALAM KEADAAN PENYERAHAN DIRI KEPADA ALLAH


Sesungguhnya dari mula kita ingin tidur,tertidur dan bangun dari tidur, jiwa kita harus diterapi dengan menyerahkan diri kepada Allah, seluruhnya kita sentiasa mengingatinya, menyebutnya dan sentiasa kita merasakan segala kebesarannya. Apakala kita mengingatinya, lahirlah mengingati yang bersifat sentiasa,lahirlah tiada detik itu,tanpa putus kerana nya, dan keranannya itulah kita akan menikmati kemanisan diri, sebab jiwa kita telah diterapi dengan penyerahan diri secara total, tidak separuh atau suku, tetapi sepenuhnya. Lahirlah jiwa yang lembut, yang tenang, yang ikhlas, yang fana, yang serba kita sentiasa tidak mengetahuinya, melainkan ilmu yang ada pada kita itu,terlalu sedikit. Lantas sepenuhnya kita bertawakkal kepadanya,kerana dia adalah pemilik kita, dan dia tahu akan segala galanya.
Rawatan buat jiwa yang kosong dan hambar..kemmbalilah kepada Allah.. Dia yang akan mengisinya tanpa kita sedari... yang sakit akan terasa ringan kesakitannya, yang sedang berdukacita akan sentiasa tenang menghadapi ujianNya.. Sesungguhnya zikir amat besar manfaatnya buat kita insan yang dhaif...
Allahu Allahu Rabbi..

Wednesday, 12 October 2016

MENUMBUHKAN KEIKHLASAN


Allah ta’ala adalah Al Khaliq.
Dialah satu satunya Zat yang menciptakan.
Dia ada sebelum segala sesuatu ada.
Tidak diciptakan, tidak juga butuh terhadap ciptaannya.
Dia maha Esa,
tidak ada sesuatu yang seperti Dia.
Tidak beranak, tidak pula diperanakan. Segala sesuatu tunduk patuh kepada Nya.
Dia kekal abadi disaat semua makhluk fana.
Dia Maha Kuasa, tidak ada sesuatupun di alam dunia ini kecuali dibawah kekuasaan Nya.
Dia Maha bijaksana,
tidak ada ciptaan Nya yang sia sia.
Dia maha kaya, tidak butuh terhadap makhluk Nya.
Sedang setiap makhluk membutuhkan Nya. Karena hanya milik Dia semua sifat kesempurnaan dan keagungan.
Allah ta’ala telah menjelaskan kepada manusia akan keagungan diri Nya dan kefakiran mereka kepada Allah.
Allah pun telah menetapkan akan tujuan penciptaan mereka,
yaitu peribadahan dan penghambaan.
Namun Dia menetapkan bahwa
Dia tidak butuh untuk dipersekutukan, dengan sesuatu apapun.
Tidak jin, manusia, atau malaikat sekalipun.
Dan memang Dia tidak layak untuk dipersekutukan.
 Maka setiap amal yang ditujukan kepada Nya, namun juga berharap dari selain Nya akan menjadi sia sia. Ibarat jasad tanpa ruh, seperti itulah nilai suatu amalan tanpa keikhlasan. Dia ada, namun mati, membusuk, dan tidak berharga.
Lalu apa pula yang diharapkan dari selain Nya, sedang segala sesuatu adalah milik Nya?! Kebodohan macam apa dalam pengharapan kepada manusia, sedang syurga milik sang pencipta? Apa jua manfaat pujian, kekaguman, dan penghargaan dari mereka yang tidak memiliki apa apa?
Namun dalam kenyataannya, jarang kita temukan orang orang yang ikhlas dalam beramal. Kejahilan terhadap Sang Pencipta, menjadikan kebanyakan orang lebih berharap kepada manusia daripada balasan dari Allah ta’ala.
Dan ternyata memang, pada prakteknya pentingnya keikhlasan tidak menjadikan dia mudah untuk diterapkan. Bukan hanya bagi orang awam seperti kita, namun para ulama dahulu pun merasakannya.
Seperti Sufyan At Tsauri rahimahullah yang berkata, “tidak ada sesuatu yang lebih berat bagiku melebihi masalah niatku, karena ia mudah berbolak balik”. Atau Yusuf bin Husainrahimahullah yang mengatakan, “sesuatu yang paling susah bagiku di dunia ini adalah keikhlasan, berapa kali aku bersungguh sungguh untuk menghilangkannya dari hatiku, namun seakan akan dia tumbuh kembali dengan corak yang lain”.
Meskipun begitu halnya, bukan berarti ikhlas tidak bisa diusahakan. Bermujahadah, menggerakan semua daya dan upaya untuk mendapatkannya tetap menjadi keharusan. Bukankah pahala itu sesuai dengan kesusahan dalam beramal? Yang karenanya semakin susah pahala semakin besar? Dan begitulah nilai keikhlasan.
Ia sungguh menentukan, hingga diterimanya suatu amalan pun tergantung dengan keberadaannya. Bahkan suatu amal kecil bisa menjadi besar dengannya. Dan sebaliknya, amalan besar bisa menjadi kecil dengan ketiadaannya. Bukankah disebutkan seorang pelacur yang masuk syurga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan? Sedang siapa diantara kita yang tidak sanggup melakukannya.
Namun lihatlah tiga golongan pertama penghuni neraka. Justru mereka adalah orang orang yang beramal besar; seorang berilmu, pejuang, dan dermawan!! Disinilah niat menjadi pembeda.
Maka, hal pertama yang harus dilakukan adalah senantiasa menghadirkan kebesaran Allahta’ala. Bahwa dialah satu satunya Dzat yang maha kuasa dan maha mengetahui.
Tidak ada yang dapat menolak manfaat jika Dia hendak memberi manfaat. Pun tidak ada yang dapat memberi mudharat jika dia berkehendak.
Kemudian hal selanjutnya adalah meminta kepada Allah agar diberikan keikhlasan. Karena sesungguhnya semua kebaikan seorang hamba merupakan taufik dari Allah ta’ala. Manusia tidaklah memiliki daya dan upaya untuk beramal kecuali jika disertai dengan taufik dari Allahta’ala.
Yang karenanya mengandalkan kemampuan diri dan hanya bersandar kepada usaha tanpa meminta bantuan dari sang pencipta merupakan sebuah keteledoran. Dan sungguh benar apa yang dikatakan Ibnul Qoyyim rahimahullah, bahwa kehinaan adalah ketika Allah meninggalkan seorang hamba dengan dirinya sendiri.
Keikhlasan juga perlu untuk dipelajari. Tentang makna, hakekat, serta hal hal yang dapat menodai keikhlasan, untuk kemudian berusaha mempraktekannya.
Karena bagaimana seseorang akan bisa ikhlas jika tidak tau makna keikhlasan?
1 Ah, seandainya saja ada sekelompok dari para ulama yang tidak mengajari manusia kecuali keikhlasan.
2 Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah senantiasa mengingat besarnya pahala keikhlasan. Serta akibat dari amalan yang tidak disertai dengan keikhlasan. Bahwa ikhlas merupakan satu satunya jalan menuju syurga. Ikhlas juga merupakan pintu keselamatan dari godaan syaitan. Sebaliknya, tanpa keikhlasan suatu amal tidak akan diterima, dan tanpanya juga seorang hamba akan terjerumus ke dalam neraka.
Juga selalu mengevaluasi diri dan bersungguh sungguh. Baik sebelum, ketika, dan setelah beramal. Sebelum memulai, berhentilah sejenak, tanyakan kepada jiwa kita, apa yang kita ingingkan dengan amalan ini?
Jika yang diinginkannya adalah ridha Allah, atau pahala dari Allah ta’ala, maka hendaklah seseorang meneruskan amalannya. Namun sebaliknya, jika ternyata yang diinginkan hal lain selain Allah ta’ala, maka hendaknya seseorang tidak melanjutkan amalannya sampai meluruskan niatnya. Ketika sedang beramalpun tetaplah melihat hati kita, jangan sampai berubah niatnya, jika kemudian muncul niat lain selain Allah, maka segera palingkan kepada Allah ta’ala. Begitu juga setelah beramal.
Jangan sampai muncul keinginan untuk diketahui oleh manusia, hingga kemudian menceritakan amalannya sambil berharap pujian dari mereka.
Memperbanyak ketaatan juga merupakan salah satu cara menghasilkan ikhlas. Karena syaitan akan selalu berusaha agar seorang hamba meninggalkan ketaatan atau berusaha merusak amalan yang dilakukan oleh seorang hamba.
Jika kemudian syaitan melihat seorang hamba senantia berada dalam ketaatan, dan tidak menghiraukan ajakan syaitan, bahkan setiap kali syaitan membisiki seorang hamba namun justru hamba tadi bertambah ketaatan dan keikhlasannya, syaitan pun akan putus asa dan berhenti dari menggoda hamba tadi, agar tidak menambah pahalanya.
Namun jika seorang hamba terkadang taat namun terkadang juga berbuat maksiat dengan menyambut ajaran syaitan, maka syaitan akan semakin bersemangat menggoda hamba tadi, begitu kata hasan Al Bashri.
Kemudian juga seorang hamba hendaklah tidak bangga dengan amalannya. Tidak takjub dengan dirinya sendiri. Karena sesungguhnya ketika seseorang merasa takjub dengan dirinya sendiri, ketika itu dia sedang menyekutukan Allah dengan dirinya sendiri. Seakan akan dia telah berjasa kepada Allah dengan amalannya.
Padahal, hakekatnya justru sebaliknya. Seorang bisa beramal merupakan taufik dari Allah ta’ala. Ujub kepada diri sendiri sebagaimana halnya syirik dapat menghapus amalan, sebagaimana yang disampaikan Imam Nawawi Rahimahullah.
Dan hal terakhir hendaknya seorang hamba selalu bergaul dan berkumpul dengan orang orang yang ikhlas. Dengan harapan bisa berqudwah dan mengikuti mereka dalam keikhlasan. Dan bukankah seseorang akan berada dalam agama teman dekatnya?
Hingga jika kita ingin melihat agama seseorang cukup dengan melihat agama teman dekatnya, Sebagaimana wasiat sang baginda Shallallahu ‘Alaih Wasallam?.3 Maka pilihlah kawan yang baik, maka kita pun akan menjadi baik dengan Izin Allah ta’ala.
Mudah mudahan Allah ta’ala memberikan rahmat dan taufik Nya kepada kita semua agar senantiasa diberikan keikhlasan dalam beramal. Karena sesungguhnya tidak ada keselamatan kecuali dengan keikhlasan.