Thursday, 29 December 2016

Kebaikan Solat Tahajud Yang Sangat Dasyat.Allahuakbar

Manfaat yang akan di dapatkan ketika melaksanakan sholat tahajud, di antaranya:

1. Dikabulkannya Doa-doa

Manfaat sholat tahajud yang pertama adalah dikabulkannya doa-doa. Seperti yang kita ketahuai, sholat tahajud adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada malam hari sesudah tidur terlebih dahulu karena arti kata tahajud adalah bangun pada malam hari. Paling utama, sholat tahajud yang dikerjakan pada sepertiga malam sampai menjelang masuk waktu sholat subuh. Pada waktu inilah Allah SWT mengabulkan doa-doa hambanya. Hal ini berdasarkan keterangan hadis Nabi:
"Perintah Allah turun ke langit di waktu tinggal sepertiga yang akhir dari waktu malam, lalu berseru, adakah orang-orang yang memohon (berdoa) pasti akan kukabulakn, adakah orang yang meminta, pasti akan Kuberikan dan adakah yang mengharap ampunan, pasti akan kuampuni baginya sampai tiba waktu Subuh." (Al-Hadis).

2. Allah Mengangkat Derajat ke Tempat yang Terpuji

Manfaat sholat tahajud yang kedua adalah Allah SWT akan mengangkat derajat ke tempat yang terpuji. Keterangan tentang ini dapat kita baca dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra' ayat 79:
"Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS A1-Isra [17]: 79).
Selain itu, keterangan lain dapat ditemukan dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan Abi Darda r.a, bahwa Rasulullah bersabda:
"Ada 3 macam manusia, Allah SWT mencintai mereka, tersenyum kepada mereka, dan merasa senang dengan mereka, yaitu salah satunya adalah orang yang memiliki istri cantik serta tempat tidur lembut dan bagus. Kemudian ia bangun malam (untuk sholat), lalu Allah SWT berkata: 'Ia meninggalkan kesenangannya dan mengingat Aku. Seandainya ia berkehendak, maka ia akan tidur." (Riwayat Ath-Thabrani).

3. Mendekatkan Diri Kepada Allah

Manfaat sholat tahajud yang ketiga adalah sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini dikuatkan lewat keterangan hadis Rasullullah SAW:
"Hendaklah kalian melaksanakan sholat malam karena sholat malam itu merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, ibadah yang mendekatkan diri kepada Tuhan kalian, serta penutup kesalahan dan penghapus dosa." (HR. Tirmidzi, Al-Hakim, Baihaqi. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaa Al Ghalil).
Dalam riwayat yang lain, dikatakan bahwa Jibril pernah berkata kepada Rasulullah Saw:
"Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman ada dengan sholat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain". (Silsilah Al-Hadis Ash-Shahihah).

4. Memperoleh berbagai Kemuliaan

Manfaat sholat tahajud yang keempat adalah akan memperoleh berbagai kemuliaan. Hal ini diperkuat berdasarkan keterangan hadis Rasulullah SAW, yang bersabda:
"Barangsiapa melaksanakan sholat tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan: 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat."
Adapun lima keutamaan di dunia itu adalah akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana, tanda ketaatannya akan tampak kelihatan di mukanya, akan dicintai para hamba Allah yan shaleh dan dicintai oleh semua manusia, lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah dan akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.

5. Mengusir Penyakit dan Meningkatkan Kekebalan Tubuh

Manfaat sholat tahajud yang kelima adalah dapat mengusir berbagai penyakit dan di saat yang sama meningkatkan kekebalan tubuh. Sedikit yang menyadari bahwa kepatuhan kita mengerjakan ritual keagamaan semisal sholat tahajud akan memberikan pengaruh pada meningkatnya sistem kekebalan tubuh. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Mohammad Shaleh. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa di saat yang sama ketika kekebalan tubuh sudah meningkat, otomatis segala penyakit yang menyerah akan musnah dengan sendirinya.

6. Menjauhkan Diri dari Kelalaian Hati

Manfaat sholat tahajud yang keenam adalah menjauhkan diri dari kelalaian hati. Penjelasan tentang ini dapat ditemukan dalam hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:
"Barang siapa mengerjakan sholat pada malam hari dengan membaca seratus ayat, maka ia tidak akan dicatat sebagai orang lalai. Dan apabila membaca dua ratus ayat, maka sungguh ia akan dicatat sebagai orang yang selalu taat dan ikhlas." (Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak).

7. Menang dalam Jihad Melawan Musuh

Manfaat sholat tahajud yang ketujuh adalah meraih kemenangan dalam jihad melawan musuh. Musuh terbesar dalam diri manusia adalah hawa nafsu. Melaksanakan sholat tahajud mungkin agak berat bagi sebagian orang karena melihat waktu pengerjaannya pada jam-jam dimana kita biasanya tertidur pulas. Godaan untuk melanjutkan tidur pastinya sangat besar di waktu tersebut. Maka dari itu, orang yang bangun dari tidurnya untuk melaksanakan sholat tahajud berarti ia telah berhasil melawan godaan dalam dirinya demi beribadah kepada Allah SWT.

8. Meringankan Lamanya Berdiri pada Hari Kiamat

Manfaat sholat tahajud yang kedelapan adalah meringankan kita ketika berdiri pada hari kiamat nanti. Keterangan tentang ini sesuai yang pernah diungkapkan Ibnu Abbas ra, yang berkata:
"Barang siapa yang senang bila lamanya berdiri di hari kiamat diringankan oleh Allah, maka hendaklah ia memperlihatkan dirinya kepada Allah di malam hari dengan sujud dan berdiri mengingat hari akhir." (Ibnu Jarir Ath-Thabari, tafsir Ibnu Jarir).

9. Mencegah Perbuatan Dosa dan Menghapus Kejahatan

Manfaat sholat tahajud yang kesembilan adalah dapat mencegah diri dari perbuatan dosa dan menghapus kejahatan. Ini sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahli ra, yang berbunyi:
"Hendakah kalian mengerjakan qiyaamullail, sesungguhnya ia adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, mendekati diri kepada Allah Ta’ala, mencegah perbuatan dosa, menghapus kejahatan dan menangkal penyakit dari badan." (Diriwayatkan At-Turmudzi, Al-Hakim)

10. Muka Tampak Berkilau dan Bercahaya

Manfaat sholat tahajud yang kesepuluh adalah membuat muka berkilau dan bercahaya. Tentang ini, pernah suatu ketika Hasan Al-Basri ra ditanya oleh seseorang, "Mengapa orang yang bertahajud di waktu malam memiliki muka yang bagus?". Hasan Basri menjawab:
"Karena mereka menyendiri bersama Tuhan-nya pada malam hari, kemudian Allah memberikan kepada mereka sebagian dari cahaya-Nya." (Al-Maqrizi, Mukhtasar Qiyaamallail).
Terkait dengan ini pula, Imam Ibnul Qayyim pernah berkata:
"Sesungguhnya sholat malam itu dapat memberikan sinar yang tampak di wajah dan membaguskannya. Sebagian istri memperbanyak melaksanakan sholat malam. Ketika ditanyakan kepada mereka mengenai hal tersebut, mereka menjawab, ‘Sholat malam itu dapat membaguskan wajah dan kami senang bila wajah kami menjadi lebih bagus".

11. Dapat Melancarkan Aliran Darah

Manfaat sholat tahajud yang kesebelas adalah dapat melancarkan aliran darah dalam tubuh. Bangun pada pukul 02.30 untuk melaksanakan sholat tahajud ternyata sangat bermanfaat bagi tubuh. Pada waktu tersebut, udara disekitar sangat segar bebas dari polusi. Pada saat itu juga, tubuh mempunyai kesempatan untuk menggerak-gerakkan seluruh otot yang membuat tubuh lebih segar dan aliran darah terasa lebih lancar.

12. Jaminan Masuk Surga

Manfaat sholat tahajud ke-12 adalah mendapat jaminan masuk surga. Ini sesuai dengan keterangan dari sabda Rasulullah SAW, yang berbunyi:
"Wahai manusia, sebarkanlah salam, beri makanlah, sambung tali kasih, sholat malamlah saat orang pada terlelap, maka masuklah surga dengan selamat". (HR. Al-Hakim, Ibnu Majah, At-Tirmidzi).

13. Dicintai Allah SWT

Manfaat sholat tahajud yang ke-13 adalah akan memperoleh cinta Allah SWT. Orang yang bertahajud, memilih bangun di tengah malam dan meninggalkan tidur yang nyaman demi untuk bersujud dihadapan sang pencipta. Segala pengampunan Allah akan diberikan pada orang bertahajud tersebut. Hal ini tentu saja disebabkan oleh Allah SWT telah mencintai mereka.

14. Penyelamat dari Siksa Neraka

Manfaat sholat tahajud yang ke-14 adalah dapat menyelamatkan diri dari siksa api neraka. Tentang ini, Ibnu Umar r.a pernah meriwayatkan bahwa pada masa Rasulullah SAW, ketika seseorang bermimpi, ia akan menceritakan mimpi tersebut ke Rasulullah SAW. Aku pun berharap mendapat mimpi yang dapat kuceritakan kepada Rasulullah SAW. Dia berkata,
"Aku adalah seorang anak muda perjaka. Aku tidur di masjid pada Rasululullah Saw, maka aku bermimpi seakan-akan dua malaikat mengambilku dan membawaku ke neraka, ternyata ia adalah bangunan seperti bangunan sumur. Ia memiliki dua palang seperti palang sumur. Di dalamnya terdapat manusia yang telah aku kenal. Maka aku mulai mengucapkan, 'Aku berlindung dengan nama Allah dari neraka'. Kemudian seorang malaikat menemui keduanya, maka dia berkata kepadaku, 'Janganlah takut!' (Mimpi ini) aku ceritakan kepada Hafshah, maka Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah dan beliau bersabda, "Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah, andaikata dia mengerjakan sholat pada waktu malam." Salim berkata, 'setelah itu Abdullah tidak tidur pada malam hari kecuali hanya sebentar." (HR Bukhari dan Muslim).

15. Penyebab Husnul Khatimah

Manfaat sholat tahajud yang ke-15 adalah seorang hamba akan meraih husnul khatimah di saat ajal menjemputnya. Kita semua menyadari bahwa semua yang bernyawa pasti akan berpisah dan meninggalkan dunia ini menuju tempat abadi di akhirat. Sholat tahajud sanga bermanfaat bagi siapa saja yang mengerjakannya, karena sholat ini bisa membantu orang tersebut untuk mencapai husnul khatimah.

Wednesday, 28 December 2016

Hasad Dengki

Surah Al-Falaq Ayat 5
وَمِن شَرِّ حاسِدٍ إِذا حَسَدَ 
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” (Q.S Al-Falaq [113] : 5)
atau apabila ia menampakkan kedengkiannya lalu berusaha atas kedengkian yang dipendamnya itu, sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Lubaid si Yahudi tadi; dia termasuk orang-orang yang dengki terhadap Nabi saw. Ketiga jenis kejahatan yang disebutkan sesudah lafal Maa Khalaq, padahal semuanya itu telah terkandung di dalam maknanya, hal ini tiada lain mengingat kejahatan yang ditimbulkan oleh ketiga perkara tersebut sangat parah.

    Dalam hadist Rasulullah saw  bersabda :

Dari Abu Hurairah radhiyallohu'anhu berkata; Rasululloh shallallohu'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Jauhilah atas kalian perasangka, karena perasangka itu sedusta-dusta perkataan. Dan janganlah kalian saling mendahului dalam penawaran, janganlah saling hasad, janganlah saling membenci, janganlah saling mendahului, janganlah saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara". (Bukhori dan Muslim, sebagaimana juga di dalam Ghoyatul Marom 173)
(H.R. Muslim dari anas bin Malik r.a.)

Faktor yang membawa kepada hasad/dengki:
1) Permusuhan
2) Sifat ujub ataupun banggga diri
3) Cintakan pangkat dan kedudukan
4) Jiwa yang kotor
5) Benci membenci
Bahaya Hasad
Orang hasad selalu berupaya untuk mencari dan melakukan cara agar nikmat atau anugerah itu hilang dari orang lain dan atau berpindah kepada dirinya.
َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَرَسُول اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ اَلْحَسَدَ يَأْكُلُ اَلْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ اَلنَّارُ اَلْحَطَبَ )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ 
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jauhilah sifat hasad karena hasad itu memakan (pahala) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." 

(H.R. Abu Dawud)
Jadi alangkah baik nya kita tidak mempunyai sifat hasad ini. Bahkan sifat hasud ini dapat membuat 

Perbuatan yang jelek lainnya yaitu fitnah , ghibah, dan masih banyak yang lain nya karena seseorang yang sudah termakan nafsu amarah nya dapat menggunakan berbagai cara untuk memuaskan nafsu amarahnya itu.betapa bahayanya apabila sifat hasad  ini melekat pada diri seseorang. Maka dia akan tersiksa didunia maupun di akhirat.

Macam-Macam Hasad
Hasad terbagi menjadi 2 macam:

1. Hasad yang tercela. seorang yang berangan-angan hilangnya nikmat dari saudaranya, dan hukumnya adalah haram.

2. Hasad yang terpuji (Ghibthoh). Seorang yang berkeinginan serupa dengan saudaranya dalam hal kebaikan dan tidak berharap nikmat atas saudaranya hilang


Tanda-Tanda Orang Yang Hasad

1. Mengungkit dan mengumumkan kekeliruan saudara/saingannya. 2. Merasa puas kalau saingannya dicela orang.

3. Merasa puas kalau saingannya tidak hadir.

4. Merasa dan sesak dadanya apabila saingannya dipuji orang.

5. Berusaha menyalahkan saudaranya walaupun saudaranya/ saingannya benar, dll


Akibat Hasad 
  1. Menyebabkan ketidaktenangan dan kerisauan yang tidak putus-putus kerena akan selalu memikirkan bagaimana agar kebaikan itu hilang dari orang lain
  2. Menghancurkan persatuan, kesatuan dan persaudaraan , karena biasanya orang yang hasud akan mengadu domba dan suka memfitnah.
  3. Mendapat kehinaan dan ketercelaan baik di dunia maupun di akhirat. Apalagi bila orang menyadari perbuatan hasudnya, maka orang lain akan memandang rendah dan menjauhinya.
  4. Akan menghancurkan kebaikan padanya 


Cara Menghindari Hasad 
  • Meyakini ke-mahaadilaan allah . bahwa allah telah memberikan kelebihan dan kekurangan yang tidak selalu sama kepada setiap manusia agar dapat bekerjasama dan saling tolong menolong serta saling melengkapi
  • Menyadari dengan sepenuh hati bahwa perbuatan hasud tidak akan memberikan manfaat apapun selain kehinaan, kerugian dan kesengsaraan bahkan dapat menghilangkan kebaikan
  • Selalu melihat dan membantu orang yang kemampuanya ada di bawah kita.
  • Sholat
  • Menganggap rekan kita sebagai kawan, teman dekat, dan teman seperjuangan, bukan sebagai musuh atau saingan.
  • Mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan allah swt, walaupun hal itu kita anggap kecil       
    
    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, 
"Tidak boleh seseorang iri terhadap orang lain 
kecuali dalam dua hal yaitu seseorang yang diberi 
pengertian Al Qur'an lalu ia mempergunakannya 
sebagai pedoman amalnya siang-malam dan 
seseorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta lalu 
ia membelanjakannya siang-malam untuk segala 
amal kebaikan." 
Dari hadits tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa hasad 
 
(iri) itu tidak diperbolehkan, KECUALI :
 
1. Iri terhadap seseorang yang memahami Al Qur’an dan kemudian mengamalkannya dalam keseharian, dan
2. Iri terhadap seseorang yang diberikan kekayaan oleh Allah dan ia belanjakan untuk amal kebajikan.

Tajassus (Mencari kesalahan orang lain)

Allah Ta’ala berfirman.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, 
karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. 

Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, 
yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا 

 وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [1] 

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, 
“Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. 
Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”

Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.

Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : 
“Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.

Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : 

“Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri,
 “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.
Sufyan bin Husain berkata,
 “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind [2], Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, 
“Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selamat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” 
Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu” [3]
Komentar saya : “Alangkah baiknya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang terkenal cerdas itu. Dan jawaban di atas salah satu contoh dari kecerdasan beliau”.

Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), 
”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.

Beliau juga berkata pad hal.133, 
“Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, 
sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. 
Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.

Membuka Aib Saudara Muslimin


وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat” (Hadits Riwayat Imam at-Tirmidzi).

Kita hidup di dunia ini terkadang merasa lebih mulia daripada orang lain. 
Hanya gara-gara satu kesalahan yang diperbuat orang lain yang tampak di depan mata kita, 
menjadikan kita merasa lebih baik dan lebih mulia sehingga kita merendahkan orang tersebut. 
Tidak cukup dengan merendahkan, kita pun berbangga ikut menyebarkan keburukan orang itu kepada orang lain.
Ketahuilah, 
mungkin saja ini adalah ujian yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang itu sehingga Allah tampakan kesalahan dan aib orang tersebut agar bisa menjadi ujian juga bagi kita dengan harapan kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang tampak dari aib itu. 
Dengan demikian kita semestinya menutup aib tersebut sehingga Allah akan memberi jaminan bahwa aib kita akan ditutup pula baik di dunia maupun di akhirat.
Seandainya dosa itu dapat mengeluarkan bau busuk dan kita dapat mencium bau busuk tersebut, 
mungkin saja kita ini lebih busuk baunya dibandingkan orang yang tampak aibnya itu. 
Tetapi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutup aib kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutup aib umat Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, maka apa yang kita rahasiakan ditutup oleh Allah Ta’ala. 
Allah Subhanahu wa Ta’ala masih mengharapkan taubat kita. Oleh karena itu, 
jika kita melihat aib yang ada pada diri orang lain, 
jangan sampai kita merendahkan dan menyebarkan aib itu. 
Sebab, 
kalau kita melakukannya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuka aib kita di dunia dan di akhirat.

Diceritakan dalam sebuah kisah yang sangat masyhur. 
Suatu hari Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam didatangi seorang wanita yang mengaku telah berbuat zina. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam kemudian berpaling darinya berpura-pura tidak mendengarnya. 

Setiap kali bertatap muka, 
Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam akan memalingkan wajah darinya. 
Ini dilakukan karena Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam tidak ingin mendengar aib wanita tersebut. Namun wanita ini tetap berdegil dan tetap menemui Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. 
Kali ini ia datang bersama ayahnya dan Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam kemudian bertanya, “Kau sudah hamil?”.
Dijawab oleh sang wanita, “Ya, hamil”.
Lalu Nabi berpesan kepada ayahnya, “Bawa anakmu dan berbuat baiklah kepadanya”.

Di sini ada 2 pelajaran berharga yang dapat kita ambil hikmahnya. 

Pertama, Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam tidak bertanya dengan siapa dia berzina. 
Kita tahu yang namanya perbuatan zina itu sudah pasti dilakukan oleh 2 pelaku. 
Tapi Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam tidak menanyakan hal itu. 
Ini karena Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam suka menutup aib orang lain. 

Yang kedua, Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam takut wanita itu dianiaya oleh ayahnya sehigga beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam berpesan agar berbuat baik terhadap putrinya. 
Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam khawatir ayahnya akan berbuat aniaya atas nama kehormatan keluarga. 
Inilah bentuk kasih sayang dan simpati Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Setelah melahirkan, wanita ini datang kembali menghadap Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. 
Maka Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam kemudian menyuruhnya untuk menyusui anaknya. 
Anehnya di sini adalah beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam tidak menahan wanita itu. 
Tetapi Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam lebih suka untuk melepaskannya.

Dalam kisah yang lain, 
Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam menceritakan ada seorang mukmin kelak pada hari Kiamat yang mempunyai keistimewaan karena di dunia ia suka menutup aib saudaranya. 
Di saat menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, 
berbicara di hadapan Allah Ta’ala, ia mendapatkan perlakuan khusus. 
Pada saat itu orang-orang yang menghadap kepada Allah, berbicara kepada Allah, maka pembicaraan antara dia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dipertontonkan di hadapan lautan manusia, 
termasuk segala perbuatan maksiat yang pernah ia lakukan selama di dunia juga akan diperlihatkan di depan manusia. Semua akan ditampakan. Akan tetapi, khusus bagi mereka yang suka menutup aib saudaranya di dunia maka akan dibuatkan tirai yang melindungi pembicaran antara orang tersebut dengan Allah sehingga tidak bisa didengar oleh siapapun. 
Yang bisa tahu dan dengar pembicaran tersebut hanya dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. 
Ketika itu Allah mengatakan, “Wahai Fulan, bukankah kamu pada hari sekian, waktu sekian dan dalam keadaan sekian telah berbuat maksiat ini dan itu?”. 
Disebutkan semuanya oleh Allah perbuatan maksiat atau keburukan yang pernah ia lakukan selama di dunia. Ia pun mengakuinya. Hanya saja pembicaraan ini ditutup oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak dipertontonkan di hadapan manusia. Meskipun dosanya tetap dibicarakan oleh Allah tetapi tidak diperlihatkan kepada orang-orang saat itu. Hanya dirinya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu. Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan kepada orang tersebut, “Dulu sewaktu hidup di dunia engkau menutup aib saudaramu maka sekarang ini semua dosamu diganti dengan kebaikan (hasanat)”. Bayangkan kegembiraan yang bakal ia dapatkan di akhirat kelak. Bukan hanya aibnya yang ditutup oleh Allah saja bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin akan mengganti dosa-dosanya dengan kebaikan. Semua ini ia peroleh karena dulu ia suka menutup aib saudaranya di dunia. Subhanalloh…

Duhai saudara/ saudariku, sayangnya penyakit kita pada zaman ini adalah suka menceritakan aib dan keburuakan orang lain. Seolah perbuatan ini menjadi sebuah kelaziman dan kelezatan bagi kebanyakan orang sekarang ini. Menceritakan aib saudaranya bahkan menjadi hiburan bagi kita. Jika kita membuka internet, halaman sebuah website, Facebook, Twitter, dan lain sebagainya akan banyak bermunculan cerita-cerita yang membicarakan aib dan keburukan orang lain. Berbagai media cetak, elektronik, dan televsi pun tersaji program khusus yang menayangkan aib orang lain. Inilah salah satu kesalahan yang paling banyak yang menyebabkan seseorang itu akan dilemparkan ke dalam api neraka jahannam. Ingatlah sabda Rasulullah yang mengatakan ini (sambil memegang lidah beliau) yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk ke dalam neraka Allah. Untuk itulah hati-hati dengan lisan dan lidah kita.

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam juga bersabda, “Seluruh umatku akan diampuni kecuali al-Mujahirun”.
“Siapa itu al-Mujahirun, duhai Rasulullah?”, tanya Sahabat Nabi.
Dijawab oleh Rasulullah, “Dia berbuat dosa di malam hari dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup aibnya. Tetapi kemudian pada pagi harinya ia membuka aibnya sendiri”.
Sering kita tidak menyadari kita suka menceritakan perbuatan maksiat yang pernah kita lakukan kepada teman atau sahabat. Atau bahkan kita berbangga diri membuka aib itu tanpa merasa berdosa. 
Itulah al-Mujahirun, orang yang suka membuka dan menceritakan aibnya sendiri. Kalau demikian, bagaimana ia akan mendapatkan perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah senantiasa menutup aib-aib kita dan anak keturunan kita dan semoga Allah mengampuni seluruh aib, dosa dan kesalahan kita dan anak keturunan kita, serta menjadikan kita sebagai orang yang suka menutup aib orang lain, suka menjaga aib diri kita sendiri, tidak suka menyebarkan keburukan saudaranya dan aib sendiri. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita mampu menjaga lisan dan lidah kita dari membicarakan hal-hal yang kotor dan tidak baik, menggantikannya dengan ucapan yang membawa kebaikan dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

(Disarikan dari kajian yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Najmuddin Othman al-Khered, Pengasuh Majelis Ta’lim Sawa’assabil Malaysia, dan Sayyidil Habib Muhammad bin Abdurrahman Asseggaf, Pendiri Program Fattabi’ouni dan Pemilik Al Irtsuna Nabawi TV, Jeddah, Negeri Hijaz)

Tuesday, 27 December 2016

Kesedihan

Assalamualaikum...
27/12/2016
Biler sebut pasal tahun baru...
Orang lain happy kan...
Tapi aku...
Sedih jer...
Yelah..asyik kena hina, kena herdik, kena sindir, kena kutuk dan mcm mcm lagi...
Hati aku macam dihiris hiris dgn pisau aku rase...
Mungkin lebih sakit dari itu...
Dekat ofis aku tu...
Byk yang nak jadi hakim...
Menghukum dan menindas orang secara membuta tuli...
Dengar sahaja perkara atau fitnah...
Terus percaya dan sebarkan...
Yang jadi mangsa org mcm aku ni...
Tapi takpe...
Aku redha...
Biarlah diorang nak fitnah aku ker, hina aku ker, maki aku ker, herdik aku ker....
Asalkan hanya Allah jer yang tau siapa aku....
Aku tak perlukan orang lain untuk suka aku...
Cukuplah Allah bagiku...
Aku yakin dengan Allah...
Setiap apa yg berlaku pasti ada hikmahnya...
Tapi yang aku paling sedih kawan aku sendiri.,,
Tapi takpe..
Aku maafkan diorang...Aku harap Allah gantikan kesedihan aku ni dengan perkara yang baik...
InsyaAllah...
Tugas aku hanya Solat dan Sabar...Nanti Allah bagi jawapan...Aku yakin..
Pada sejadah sahaja aku menangis dan mengadu...Dipintu Allah sahaja tempat aku meminta kekuatan
untuk meneruskan kehidupan ni...Aku yakin dengan Allah...
Dan aku redha dengan takdir yang diberikan olehNya...
Kerana takdirNya lah yang terbaik kerana Allah Maha Mengetahui....
Aku akan redah dengan kekuatan yang Allah berikan pada aku...
Dan aku ingat satu jer...
Benda baik dibalas baik...begitu juga sebaliknya...

Monday, 26 December 2016

Rahsia Solat

Otak tidak berfungsi normal jika jarang atau tidak SOLAT..Benarkah??

Otak adalah organ tubuh yang amat penting bagi kehidupan manusia.
Oleh itu Allah S.W.T meletakkan otak kita dibahagian paling atas dari tubuh kita.
Otak manusia adalah satu system dari semua yang dilakukan oleh manusia.
Jika didalam istilah computer,
Otak adalah PC, Yang menjadi pusat semua jaringan organ tubuh manusia.
 Maka tidak hairan..
Otak adalah mempengaruhi semua yang dilakukan oleh manusia.

Para Ahli Kimia mengumpulkan dari beberapa kajian,
Bahawa otak manusia merupakan satu organ yang paling menakjubkan yang ada pada tubuh manusia.
Hal itu disebabkan oleh kerana Otak manusia dapat mengendalikan sistem saraf pusat,
Supaya dapat bekerja secara Normal.

Apakah dapat dibayangkan otak kita tidak berfungsi sejak secara normal,
Tentu akan terjadi satu kekacauan ditubuh kita,
Sehingga otak kita tidak dapat berfikir dengan sempurna dan kita tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik.

Dan sebenarnya, apakah yang menyebabkan otak kita tidak berfungsi secara normal?

Untuk menjaga potensi hidup dan stamina dalam badan otak memerlukan makanan iaitu Nutrisi.
Nutrisi tersebut merupakan makanan yang kita makan dan oksigen yang dibawa oleh pembuluh darah.
Meskipun berat otak hanyalah 2% daripada tubuh manusia,
Tetapi mendapatkan pasukan darah 15% daripada seluruh tubuh kita.
Hal ini disebabkan oleh sel-sel otak akan mati jika pasukan darah yang membawa oksigen itu terhenti.
Jika terjadi kelewatan darah yang sampai ke otak,
Maka akan menyebabkan kekacauan dalam tubuh manusia kerana selain membawa zat zat yang diperlukan oleh otak darah juga adalah membersihkan kotoran yang ada pada otak agar otak akan bekerja dengan baik tanpa ganguan.

Mengenai kelancaran darah menuju otak terdapat suatu tindakan iaitu satu kewajipan umat MUSLIM
yang berkenaannya iaitu SOLAT.
Kerana tanpa SOLAT, otak tidak akan berfungsi secara Normal.

Hal ini sangat lah tepat.
Kebenaran hal ini telah dibuktikan oleh seorang Pakar Dari Universiti Amerika Syarikat,
Ia sangat kagum dengan penemuan tersebut.
Dan ia sedar betapa besarnya manafaat SOLAT yang merupakan kewajipan semua umat ISLAM
Diseluruh Dunia.

Dalam penelitian tersebut ia menunjukkan masalah urat saraf yang ada didalam otak manusia
yang tidak boleh dimasuki oleh darah dan aliran darah hanya dapat masuk didalam otak hanya
bila seseorang pada berkeadaan bersujud dalam SOLAT. 

Monday, 5 December 2016

Doa Sujud Terakhir

Sesuai hadis shahih riwayat Muslim, bahwa di antara tempat dan waktu berdoa yang mustajab, mudah dikabulkan adalah pada saat sedang sujud. Nabi Saw bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.” (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah).

            Dalam hadis tersebut dapat difahami bahwa memperbanyak doa pada waktu sujud memang dianjurkan. Namun, tidak ada ketentuan dan anjuran untuk memperbanyak doa hanya pada saat sujud yang terakhir. 
Karena itu memperbanyak doa, sesuai hadis tersebut, dapat dilakukan pada saat kapan saja setiap melakukan sujud.

          Sebagian ulama tidak membenarkan jika hanya mengkhususkan pada sujud terakhir saja untuk memperbanyak doa, sehingga sujudnya lebih lama dibandingkan dengan sujud-sujud yang lain. Syekh al-Utsaimin (Fatawa Nur ‘Ala al-Darb, XIX/75) mengatakan: “Memperpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk Sunnah. Yang sesuai Sunnah Nabi Saw adalah seseorang melakukan shalat antara ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud itu hampir sama lamanya”.  Al-Bara’ bin ‘Azib meriwayatkan hadis sebagai berikut:

كَانَ رُكُوعُ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ
Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Nabi Saw, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninahnya).”(HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471).

            Karena itu, jika ingin memperbanyak doa pada saat sujud, tidak perlu mengkhususkan pada sujud yang terakhir saja, tetapi dapat dilakukan pada saat sujud-sujud yang lain dalam shalatnya. Yang perlu diperhatikan bagi makmum ketika shalat berjamaah, jangan sampai makmum menyelesihi imam gara-gara memperlama dalam sujudnya. Hal ini bisa merusak shalat jamaahnya. Secara syar’i, jika imam sudah selesai dari sujud terkahir  maka selaku makmum hendaklah segera bangkit dari sujud untuk mengikuti imam ketika itu, tidak boleh menyelisihinya. Karena imam itu  diangkat untuk diikuti. Nabi Saw bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ
Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi.” (HR. Bukhari no. 722, dari Abu Hurairah).

            Yang menjadi perselisihan(beda pendapat) di kalangan ulama dalam hal memperbanyak doa pada saat sujud adalah tentang bacaan doanya. Apa yang dimaksud dengan memperbanyak doa itu? Haruskah doa yang dibaca pada saat sujud itu sesuai dengan doa-doa sujud yang pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw? Bolehkan membaca doa di luar itu, yakni doa sendiri sesuai dengan yang dikehendaki untuk kebutuhan hidup di dunia ini?

            Dalam hal ini ada ada tiga pendapat. Pertama, ulama Hanafiyah: doa yang dibaca itu harus sesuai dengan doa-doa sujud yang pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw, khususnya bacaan tasbih; Kedua, ulama Hanabilah: doa yang dibaca itu boleh selain bacaan sujud yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, asal doa itu ma’tsur (berasal dari al-Qur’an atau al-Hadis yang shahih); Ketiga, ulama Malikiyah dan Syafi’iyah: doa yang dibaca itu boleh dengan doa-doa yang lain sesuai yang dikehendaki asal tidak doa untuk  suatu dosa dan pemutusan silaturrahim.
 
Syaikh Wahbah Al-Zuhaili mengatakan: “Ulama al-Hanafiyah berpendapat: orang shalat tidaklah ketika ruku dan sujudnya membaca selain tasbih, ini menjadi pendapat madzhab. Sedangkan, hadits tersebut bermakna pada shalat sunah. Sedangkan, ulama Malikiyah menganjurkan doa ketika sujud, baik doa yang terkait dengan urusan dunia atau agama atau akhirat, untuk dirinya atau orang lain, secara khusus atau umum tanpa batasan, bahkan dengan itu Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan. Menurut ulama Hambaliyah, tidak apa-apa berdoa dengan doa-doa dan dzikir yang ma’tsur (berasal dari hadits).” Sedangkan ulama al-Syafi’iyah menguatkan kesunnahan berdoa (apa saja) ketika sujud.” (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, II/84)
Rasulullah Saw  memberikan contoh doa yang dibacanya ketika sujud, yakni sebagai berikut:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ
 “Ya Allah ampnilah dosa-dosaku semua, baik yang halus atau yang jelas, yang awal dan yang akhir, dan yang terang-terangan dan yang tersembunyi.” (HR. Muslim No. 1112)
 Nah, jika membaca doa ini maka sangat bagus dan kita telah mengikuti sunnah Nabi Saw. Tetapi apakah dengan ini berarti membatasi doa-doa yang dibaca? Bolehkah membaca doa lain sesuai hajat kita?
Imam Al-Nawawi (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, III/471-472), mengatakan bahwa doa-doa dalam sujud tersebut adalah mutlak dan tidaklah dibatasi. Doa apa saja yang termasuk maksud doa adalah boleh. Sebab Rasulullah Saw melakukan berbagai doa yang berbeda dan berbagai tema. Ini menunjukkan bahwa hal itu tidak dilarang. Dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim), dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi Saw bersabda tentang doa akhir tasyahhud:
ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَلْيَدْعُ بِه
“Kemudian hendaknya dia memilih doa yang disukai dan sesuai seleranya.” Dalam riwayat Imam Muslim, sebagaimana menjelasan bab yang lalu, dari Abu Hurairah: “kemudian dia berdoa untuk apa-apa yang nyata untuk dirinya.”
 Suatu saat Syekh Bin Baz (Fatawa Bin Baz, XI/64-65) ditanya tentang hukum membaca doa untuk urusan dunia pada saat sujud dalam shalat fardhu. Beliau menjawab: berdoa pada saat sujud dalam shalat-shalat fardhu maupun sunnah, baik untuk dirinya maupun orang lain yang dikehendaki termasuk perkara yang disunnahkan atau disyariatkan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw: “Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.” (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah). Lebih lanjut Bin Baz mengatakan bahwa memperbanyak berdoa juga disyariatkan pada saat sujud dengan doa apa saja, baik urusan dunia ataupun urusan akhirat. Misalnya berdoa minta istri yang shalihah, anak yang baik, rizki yang halal, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan beberapa hadis yang hampir sama maknanya seperti sabda Nabi Saw: “Kemudian hendaknya dia memilih doa yang disukai dan sesuai seleranya.” Dalam riwayat Imam Muslim, sebagaimana menjelasan bab yang lalu, dari Abu Hurairah: “kemudian dia berdoa untuk apa-apa yang nyata untuk dirinya.” (Muttafaqun Alaih).
Kesimpulan:
1.      Memperbanyak doa pada saat sujud adalah dianjurkan dan sesuai dengan syariat;
2.      Memperbanyak doa pada saat sujud, tidak dianjurkan hanya pada saat sujud yang terakhir, tetapi boleh dilakukan pada setiap sujud dalam shalatnya, baik shalat fardhu maupun shalat Sunnah;
3.      Ulama berbeda pendapat tentang bacaan yang dibaca dalam memperbanyak doa di waktu sujud. Sebagian ulama, seperti Hanafiah, hanya membatasi pada doa-doa sujud yang dicontohkan Rasulullah Saw. Sementara ulama lain, seperti Hanabilah, membolehkan bacaan doa selain bacaan sujud, asal doanya ma’tsur dari al-Qur’an atau pun al-Hadis. Adapun ulama Malikiyah dan Syafi’iyah, membolehkan bacaan doa apa saja yang dikehendaki, baik doa untuk kepentingan dunia maupun akhirat.